Tampilkan postingan dengan label Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Laptop si Noordin: (Apakah) Malaysia Musuh Indonesia?

Jumat, 09 Oktober 2009

Diantara dokumen tertulis manual cara merakit dan mengebon yang diduga sudah di gandakan dan disebarkan oleh Noordin dan pengikutnya Ada juga Petunjuk Observasi Medan, Pengintaian, Menghindari Musuh, dan Manual Jejaring Organisasi yang di pimpin oleh Noordin selama ini.

inilah bocoran isi laptop yang di temukan saat penggerbekan gembong teroris Noordin M. Top:

1. Ditemukan file dokumen dalam bahasa indonesia berformaaf pdf (adobe acrobat) menguraikan secara rinci cara mencari bahan, merakit, meledakkan bom.

2. Ada bab Tadrid Takhasus yang menguraikan segala petunjuk tinggkat mahir penggunaan segala jenis senjata api, cara menyimpan, membawa ke target saat pelaksanaan amaliat.

3. Manual taktik strategi berberang diperkirakan bersumber dari kitab Mudzakaratul Amni milik Tandzim Al-qaida yang isisnya dinilai berkualitas.

4. Di bab tentang intelijen, isinya seperti menyalin buku mausuah Jihad Afghan.

5. Dokumen Alqaida Asia Tenggara dalam bahasa arab yang menyebutkan prosedur kaderisasi dan langkah langkah menyelamatkan organisasi.

6. Dokumen pengkuan Tandzim Alqaida di Afghanistan terhadap kepemimpinan Noordin M. Top, Muhammad Syahrir, Syaefuddin jaelani dan Ibrohim Muharram sebagai pimpinan Al-Qaida Asia tenggara.

7. Pernyataan Al_Qaida yang memberikan dukungan dan pembelaan terhadap tindakan kelompok Noordin di Asia tenggara.

Mengapa Noordin M.Top Diindikasi Intelejen Asing

Berbagai macam rangkaian aksi pengeboman yang di lakukan oleh jaringan Noordin M Top terdapat banyak kejanggalan-kejanggalan, dan menuai kontroversi bebagai pihak maupun dari beberapa pengamat di bangsa ini diantaranya Noordin M.Top Diduga Intelejen Asing, Pengeboman Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton Jumat (17/7) disinyalir didalangi oleh intelegen asing yang sengaja disusupkan di Indonesia. Salah satunya adalah teroris kawakan bernama Noordin M. Top. Banyak pihak dan pengamat menduga Noordin M. Top sengaja disusupkan ke Indonesia untuk menganggu keamanan dan perekonomian Indonesia.

Dari beberapa komentar pengamat dan elitis di negeri ini terangkum, Noordin M. Top sengaja disusupkan oleh Malaysia untuk melakukan serangkaian pengeboman di Indonesia.

Berikut beberapa alasan yang mendasari dugaan Nurdin M.Top sebagai Intelegen Malaysia:

1. Noordin M. Top warga negara Malaysia.

2. Salah seorang teroris yang berhasil dilumpuhkan dan terbunuh di Indonesia yakni Dr. Ashari juga merupakan warga Malaysia.

3. Pembantu terdekat atau tangan kanan Noordin M. Top yang bernama Zulkifli juga merupakan warga Malaysia.

4. Noordin M. Top dan jaringan teroris lainnya tidak pernah melakukan pengeboman di wilayah Malaysia, padahal Malaysia juga bertebaran lokasi maksiat seperti Genting Highland dan lainnya.

5. Noordin M. Top dan jaringan lainnya tidak pernah melakukan pengeboman di wilayah Malaysia yang lokasinya merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi turis-turis asing.

6. Pengamanan Hotel dan lokasi-lokasi strategis di Malaysia relatif longgar dibandingkan dengan pengamanan hotel di Indonesia yang setiap melewati pintu pasti akan digeledah habis. Mengapa dengan pengamanan yang begitu longgar para teroris tidak berminat menggunakan Malaysia sebagai lokasi teror?

7. Aparat kepolisian di Malaysia tidak terlalu tertarik untuk menyelediki keterlibatan Noordin M. Top sebagai dalang teroris di Indonesia, fakta ini bisa dilihat tidak ada upaya dari aparat kepolisian selama ini untuk mendalami hubungan Noordin M.Top dengan keluarganya di Malaysia. Bayangkan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia, dugaan seseorang yang dituduh sebagai teroris maka saat itu juga aparat keamanan akan mengamankan keluarga teroris yang dituduh.

8. Pemerintah Malaysia belum pernah melakukan pendekatan kepada keluarga Noordin M. Top agar keluarga Noordin M. Top mengimbau secara luas melalui berbagai media agar Noordin M.Top tidak lagi membunuhi orang di Indonesia.

9. Mendagri Malaysia Hishammuddin Hussein seperti dimuat diharian Kompas selasa (21/7) menyatakan belum ada petunjuk yang nyata Noordin M Top, warganegara Malaysia, berada di balik dua bom bunuh diri di Jakarta. Apakah Mendagri Malaysia sudah melakukan investigasi lengkap hingga mampu mengeluarkan pernyataan sepenting ini, lebih cepat daripada pihak berwajib di Indonesia? Apakah badan intelijen dan kepolisian Malaysia lebih hebat daripada BIN dan Kepolisian Indonesia, sehingga Malaysia sudah tahu Noordin M Top tak terlibat pengeboman Marriot-Carlton II pada 17 Juli 2009?

10. Adanya upaya perebutan pengaruh saat menjamu Manchester United (MU). Malaysia hendak membuktikan bahwa negaranya lebih aman dari Indonesia. ( analisis Anggota Komisi I DPR RI Ali Mochtar Ngabalin )

11. Sumber dana operasional Noordin M. Top diduga berasal dari luar Negeri

12. Saat ini Indonesia sedang giat-giatnya mempromosikan kunjungan wisata Indonesia, dan jika ini sukses dampaknya akan mempengaruhi kunjungan wisata ke Malaysia. Salah satu upaya untuk menghancurkan pariwisata Indonesia adalah dengan melakukan pengeboman dilokasi yang identik dengan tamu asing.

Selanjutnya...

Labu Raksasa Seberat 782 Kg Pecahkan Rekor Dunia

CANTON, KOMPAS.com — Seorang guru di Ohio memenangkan penghargaan dalam kontes membesarkan labu raksasa dengan labunya yang sebesar 782 kg. Wanita bernama Christy Harp dari Jackson Township dekat Canton itu menempati peringkat teratas pada kontes Penanam Labu Raksasa di Canfield pekan lalu.

Dia memenangkan hadiah uang tunai sebesar 2.500 dollar AS dan dapat mengklaimnya sebagai rekor dunia. Panitia kontes mengatakan bahwa angka tersebut memecahkan rekor labu raksasa yang pernah dimenangkan oleh Joe Jutras dari North Scituate, Rhode Island, pada tahun 2007, yang beratnya 766 kg.

Biji labu dari labu raksasa milik Harp ini akan dikeringkan dan diberikan kepada siapa pun yang memintanya.

Sumber: www.kompas.com

Selanjutnya...

Pers Malaysia Galang Bantuan Gempa Sumatera

Senin, 05 Oktober 2009

KUALA LUMPUR, KOMPAS .com - Media massa di Malaysia, terutama media cetak seperti Berita Harian, Utusan Malaysia, The Star dan The New Straits Times melakukan penggalangan dana kemanusian terkait dengan gempa bumi di Sumatera Barat.

Harian The Star membuka rekening di CIMB untuk menerima sumbangan masyarakat di empat negara yakni Malaysia, Indonesia, Singapura dan Thailand sejak Jumat, 2 Oktober 2009. Rekening itu dinamakan "CIMB-The Star Padang Relief Fund"


CEO CIMB Nazir Razak langsung menyerahkan bantuan sebesar 100.000 ringgit (sekitar Rp 280 juta) dalam pembukaan rekening itu. Nazir Razak adalah salah seorang putra dari PM Malaysia Nazib Tun Razak dan ibunya Rosmah Mansor (istri Najib) adalah keturunan Padang, Sumatera Barat.

Nazir mengatakan akan menyiapkan 1.150 boks di seluruh cabang CIMB di Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Thailad. CIMB telah membeli Bank Niaga di Indonesia.

Media Prima, sebuah konglomerat media di Malaysia, yang memiliki koran Berita Harian, Harian Metro, New Straits Times, dan jaringan TV3, TV7, dan TV9 membuka rekening penggalangan dana "Tabung Bencana" bekerjasama dengan Maybank.

Harian "Utusan Malaysia" sebagai salah koran berbahasa Melayu terbesar di Malaysia juga membuka "Tabung Gempa Nusantara" bekerjasama dengan Maybank.

Berbagai masyarakat Malaysia membuka berbagai teromol untuk menyalurkan bantuan dana kemanusian korban gempa bumi di Sumatera Barat. NUJ (national union of journalists) Malaysia mengumpulkan dana 1.660 dari berbagai wartawan ASEAN yang sedang mengadakan konferensi "Confederation of Asean Journalist" di Kuala Lumpur.

Pemuda Barisan Nasional (BN) Johor Bahru juga membuka saluran bantuan kemanusian untuk korban gempa di Sumbar. Ketua Pemuda BN Johor Bahru Khaled Mohamed mengatakan akan menggalang sumbangan dana dari para anggota sebanyak 14 partai politik yang berkoalisi ke dalam Barisan Nasional.

Diperkirakan dana yang akan terkumpul antara 25.000 - 50.000 ringgit yang akan disalurkan kepada lembaga yang berwenang.

Sumber: www.kompas.com

Selanjutnya...

Merayakan Sebuah Persatuan

Minggu, 04 Oktober 2009

Berlin - 3 Oktober 1989 menjadi hari penting runtuhnya Tembok Berlin. Peristiwa yang menjadi momentum persatuan Jerman ini kemudian dirayakan setiap tahun sebagai hari nasional Jerman.

Der Tag der Deutschen Einheit atau Hari Kesatuan Jerman dirayakan layaknya bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Berbagai kegiatan dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat di Jerman untuk memperingati bersatunya Jerman Barat dan Timur.

Di Berlin, perayaan hari nasional ini dipusatkan di monumen Brandenburger Tor. Ini adalah tradisi karena sejarah Brandenburger Tor sebagai pusat aksi massa saat meruntuhkan tembok Berlin.

Sayangnya cuaca kurang bersahabat. Namun gerimis dan angin yang dingin tidak menghalagi ribuan orang membanjir ke Brandenburger Tor. Pantauan detikcom, Sabtu (3/10/2009), di sekitar Brandenburger Tor, taman Tiergarten sampai gedung DPR Bundestag sudah steril dari kendaraan.

Bendera Jerman dikibarkan di depan gedung DPR. Menjelang monumen, polisi memeriksa tas setiap orang yang datang sebelum masuk ke tempat acara. Di Brandenburger Tor, peringatan hari nasional dirayakan seperti sebuah festival.

Di depan monumen kini dipasang panggung musik berukuran besar. Sudah disiapkan pula podium untuk tempat duduk para tamu penting. Sabtu malam akan digelar pagelaran musik dengan banyak tamu undangan penting.

Selain itu berbagai stan makanan, permainan dan kedai bir berderet panjang layaknya pasar malam. Tidak lupa wahana permainan kincir raksasa. Sekitar 5.000 orang berada di kawasan ini dan masih akan terus bertambah sampai malam nanti.

"Ini adalah sebuah hari yang penting bagi kami bangsa Jerman. Jerman bisa menjadi bangsa yang lebih besar setelah kami bersatu," kata Martha (42), seorang pengunjung.

Open Day

Di luar kawasan ini, perayaan hari nasional dilakukan dengan menggelar Open Day di berbagai LSM, institusi dan organisasi. Semua pihak saling kunjung-mengunjungi.

Tidak ketinggalan pula Masjid Indonesia Al Falah IWKZ e.V. Al Falah menggelar Open Day yang didukung pula oleh KBRI Berlin dan Forum Lingkar Pena (FLP). Acara diisi dengan diskusi sastra yang mengundang novelis Asma Nadia dan sejarawan Waruno Mahdi.

(fay/irw)

Selanjutnya...

Menggugat Kemunafikan atas Nama HAM

VIVAnews - Selama empat tahun terakhir, saya telah memaparkan sejumlah tantangan utama yang dihadapi dunia. Saya pun telah mengutarakan pangkal penyebab tantangan-tantangan itu dan perlunya bagi kekuatan-kekuatan dunia untuk meninjau pandangan mereka dan mengupayakan mekanisme baru untuk mengatasi masalah-masalah internasional.

Saya juga telah memperbincangkan dua pandangan yang bertentangan: yang satu lebih banyak berdasarkan kepentingan-kepentingan materialistik melalui penyebaran ketimpangan dan penindasan, kemiskinan dan perampasan, agresi, pendudukan dan muslihat, serta cenderung membawa seluruh dunia di bawah kendalinya dan menerapkan kemauannya kepada bangsa-bangsa lain. Pandangan ini tak lain hanya menghasilkan frustrasi, kekecewaan, dan masa depan yang kelam bagi seluruh umat manusia.

Pandangan yang lain adalah yang berdasarkan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mengikuti ajaran dari para nabi-Nya, menghargai martabat manusia dan berupaya membangun dunia yang aman bagi semua umat manusia, di mana semua orang dengan setara bisa menikmati berkah perdamaian dan spiritualitas.

Yang terakhir ini merupakan pandangan yang menghargai semua umat manusia, bangsa, dan kebudayaan-kebudayaan yang berharga dalam menentang segala bentuk diskriminasi di dunia dan membaktikan diri kepada perjuangan yang terus-menerus untuk mendorong persamaan bagi semua pihak di depan hukum berdasarkan keadilan dan persaudaraan, serta menaruh landasan yang solid demi menjamin akses yang setara bagi semua umat manusia dalam menggapai ilmu dan pengetahuan.

Saya berulang kali menekankan perlunya membuat perubahan-perubahan fundamental dalam situasi di dunia saat ini dan bagi kehidupan manusia demi menciptakan masa depan yang cerah.

Maka, saya ingin berbagai beberapa hal mengenai perubahan-perubahan yang harus berlangsung.

Pertama, situasi di dunia seperti saat ini tidak mungkin dilanjutkan. Kondisi yang tidak seimbang dan tidak menguntungkan saat ini bertentangan dengan sifat umat manusia dan bergerak ke arah yang berlawanan dengan kebenaran dan tujuan di balik penciptaan dunia.

Kini tidak mungkin lagi untuk menyuntikkan ribuan miliar dolar kekayaan yang semu ke perekonomian dunia hanya dengan mencetak aset-aset kertas yang tak berharga atau mentransfer inflasi dan masalah-masalah sosial dan ekonomi ke pihak-pihak lain melalui defisit-defisit anggaran yang parah.

Mesin kapitalisme yang tak terkendali dengan sistem pemikiran yang tidak adil telah berada di ujung jalan dan tak mampu lagi bergerak. Era pemikiran kapitalis dan penerapan salah satu pemikirannya bagi masyarakat internasional dan berupaya menguasai dunia atas nama globalisasi telah berakhir. Kini tidak mungkin lagi untuk mempermalukan bangsa-bangsa dan menerapkan kebijakan-kebijakan standar ganda bagi masyarakat dunia.

Berbagai pendekatan di mana realisasi kepentingan kekuatan-kekuatan tertentu dianggap sebagai satu-satunya kriteria untuk mengangkat demokrasi dan menggunakan metode-metode intimidasi dan pengecohan terburuk di bawah mantel kebebasan sebagai praktik demokrasi haruslah ditolak. Begitu pula dengan pendekatan-pendekatan di mana para diktator digambarkan sebagai demokrat dan kurang legitamsi juga tidak boleh diterima.

Saatnya telah berakhir bagi mereka yang menentukan demokrasi dan kemerdekaan, sementara di saat yang sama mereka juga yang pertama-tama melanggar prinsip-prinsip fundamental. Mereka tidak bisa lagi duduk baik sebagai hakim maupun eksekutor serta menantang para pemerintahan yang benar-benar dibentuk secara demokratis.

Kebangkitkan banyak bangsa dan ekspansi kebebasan di penjuru dunia tidak bisa lagi memungkinkan mereka untuk melanjutkan kemunafikan dan perilaku yang jahat. Maka, semua bangsa termasuk rakyat Amerika Serikat tengah menunggu perubahan yang nyata dan besar.

Tak dapat dibayangkan bila kebijakan-kebijakan atas Palestina terus berlanjut: Mengusir seluruh populasi dari suatu negeri yang telah menjadi tanah air mereka selama lebih dari 60 tahun dengan kekuatan dan paksaan; menyerang mereka dengan segala bentuk senjata; mengabaikan hak-hak mereka untuk membela diri sementara banyak pihak menyebut penjajah sebagai kaum yang cinta damai dan melihat para korban sebagai teroris.

Bagaimana bisa kejahatan penjajah atas para perempuan dan anak-anak dan penghancuran rumah mereka didukung oleh sejumlah pemerintah tanpa syarat. Di saat yang bersamaan, para lelaki dan perempuan terjajah yang menjadi korban genosida dan blokade ekonomi yang parah tidak bisa mendapat kebutuhan pokok, pangan, air, dan obat-obatan.

Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang hancur akibat serangan barbar selama 22 hari oleh rezim Zionis sementara musim dingin kian dekat. Para agresor dan pendukung mereka justru secara licik melanjutkan retorika mereka dalam membela hak asasi manusia dalam rangka menekan pihak-pihak lain.

(Saat Ahmadinejad mengucapkan dua kalimat di atas, para perwakilan dari negara-negara Barat - seperti Prancis, Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain - ramai-ramai melakukan aksi walkout dengan keluar dari ruang sidang kendati Ahmadinejad belum selesai berpidato. Presiden Iran itu tetap melanjutkan pidatonya - Redaksi)

Kini, tak dapat lagi diterima bahwa suatu minoritas yang kecil akan mendominasi politik, ekonomi, dan budaya dari penjuru dunia dengan jaringan mereka dan menciptakan bentuk baru perbudakan serta menghancurkan reputasi bangsa-bangsa lain - bahkan termasuk bangsa Eropa dan AS - untuk mencapai ambisi-ambisi rasis mereka.

Kini tidak dapat diterima bahwa pihak-pihak yang berada ribuan kilometer jauhnya dari Timur Tengah akan mengirim pasukan mereka untuk melakukan intervensi militer dan menyebarkan perang, pertumpahan darah, agresi, teror, dan intimidasi di seluruh kawasan. Mereka pun menyalahkan protes negara-negara di kawasan itu - yang prihatin atas nasib dan keamanan nasional mereka - sebagai tindakan menentang perdamaian mencampuri urusan pihak lain. Lihatlah situasi di Irak dan Afganistan.


Artikel ini merupakan ringkasan dari pidato Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dalam sidang tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa di New York AS, 23 September 2009. Transkrip pidato sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

Selanjutnya...